Bawaslu Aceh Barat Gandeng Mahasiswa UTU Perkuat Pengawasan Partisipatif Pemilu
|
Semangat pengawasan partisipatif terus diperkuat di kalangan mahasiswa. Sebagai upaya membangun kesadaran kolektif dalam menjaga integritas Pemilu, Bawaslu Aceh Barat menggandeng mahasiswa Universitas Teuku Umar melalui kuliah tamu bertajuk “Saweuh Kampus” yang digelar pada Senin, 13 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi edukasi politik untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam mengawal proses demokrasi.
Dalam kegiatan tersebut, Koordinator Divisi Hukum, Pencegahan, Humas dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Aceh Barat, Sudirman, menegaskan bahwa mahasiswa memiliki posisi yang sangat penting sebagai motor penggerak pengawasan partisipatif. Menurutnya, mahasiswa merupakan kelompok yang kritis, independen, dan memiliki kapasitas untuk menjadi agen perubahan dalam kehidupan demokrasi.
Sudirman menjelaskan bahwa keterlibatan aktif mahasiswa sangat dibutuhkan untuk menjaga prinsip langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil (Luber Jurdil) dari berbagai ancaman yang dapat mencederai kualitas Pemilu. Ancaman tersebut antara lain penyebaran hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, serta praktik politik uang yang masih menjadi tantangan dalam setiap penyelenggaraan pemilihan.
Sementara itu, Ketua Bawaslu Aceh Barat, Haswandi, mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengamat demokrasi, tetapi juga pelaku pengawasan yang aktif. Ia mendorong terbentuknya komunitas pengawasan partisipatif di lingkungan kampus sebagai wadah kolaborasi antara mahasiswa, penyelenggara pemilu, dan berbagai elemen masyarakat dalam mengawal proses demokrasi yang berkualitas.
Menurut Haswandi, kekuatan suara dan idealisme anak muda merupakan fondasi penting dalam mewujudkan demokrasi yang bersih dan berintegritas. Melalui komunitas pengawasan, mahasiswa dapat berkontribusi secara nyata dalam melakukan edukasi politik, pencegahan pelanggaran, hingga pelaporan apabila menemukan dugaan pelanggaran pemilu di tengah masyarakat.
Dukungan terhadap gagasan tersebut juga datang dari kalangan akademisi. Akademisi UTU, Apri Rotin Djusfi, menyampaikan bahwa komunitas yang terbentuk nantinya dapat menjadi ruang pembelajaran nyata atau “laboratorium pengawasan” bagi mahasiswa. Dengan sinergi antara Bawaslu dan dunia kampus, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya memahami demokrasi secara teoritis, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam mengawal kedaulatan rakyat serta menjadi aktor-aktor politik masa depan yang berintegritas.